Sebuah hadist menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah matahari akan terbit dari arah barat. Sebagian
besar pentafsir menyatakan bahwa makna “matahari akan terbit dari arah
barat” adalah makna yang sesungguhnya yaitu matahari secara nyata yang
kita lihat sehari-hari. Ada sebagian yang menyatakan bahwa makna yang dimaksud adalah “Islam
akan bersinar dari dunia Barat”, atau dengan kata lain kalimat tersebut
tergolong dalam gaya bahasa metamorfosa. Sebenarnya gaya bahasa
metamorfosa banyak digunakan manusia dari berbagai belahan bumi.
Misalnya di Indonesia kita mengenal “Ayam Jantan dari Timur” yang
menggambarkan kepahlawanan Hasanuddin. Kemudian mungkin ada yang pernah
mendengar atau melihat film berjudul “Lion on the Desert” atau “Singa
Padang Pasir” yang juga mengggambarkan seorang pahlawan di padang pasir.
Dan juga Sahabat Ali RA
dikenal dengan julukan “Al Baabu al-ilmu” atau “Pintunya Ilmu”. Jadi
pada dasarnya penafsiran kata “matahari” dengan “islam” ada benarnya,
mengingat bahwa Islam berfungsi sebagai penerang yang menerangi
kehidupan manusia untuk berjalan pada rel-rel kebenaran sesuai yang
digariskan oleh Allah SWT. Sehingga fungsi Islam dapat diidentikkan
dengan Matahari. Terlepas dari masalah tafsir tersebut, tulisan ini
mencoba membahas perkembangan Islam di dunia Barat secara umum dan di
Amerika Serikat secara khusus.
Jumlah penduduk Muslim dan pertumbuhannya di Negara-negara Barat
Telah diakui berbagai kalangan bahwa Islam adalah agama dengan tingkat pertumbuhan yang paling cepat (the fastest growing religion). Berdasarkan
data yang ada, selama kurun waktu kurang lebih 20 tahun sejak awal
1970-an sampai sekarang penduduk muslim meningkat lebih dari 200% dari
sekitar 500 juta menjadi sekitar 1,5 milyar. Pertumbuhan penduduk muslim
yang cepat tersebut terutama disumbang oleh tingkat pertumbuhan
penduduk di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Meskipun demikian, islam sebagai “the fastest growing religion”,
seperti diakui berbagai kalangan, juga terjadi di negara-negara Barat.
Di Inggris misalnya, selama kurun waktu 20 tahun sekitar 20.000 orang
masuk Islam. Menurut laporan “The Daily Telegraph” edisi 30
April 2001, sebagian besar para muallaf (muslim convert) adalah yang
mereka yang punya kedudukan di masyarakat, memiliki hubungan keluarga
yang kuat, dan memilih Islam setelah melalui penelitian dan kajian yang
mendalam. Selanjutnya yang menarik dari laporan tersebut adalah bahwa
diantara yang masuk Islam ternyata lebih banyak wanita dibandingkan
laki-laki. Di antara mereka yang masuk Islam adalah Joe Dobson putra
mantan Menteri Kesehatan Inggris, putra dari John Birt, mantan Direktur
BBC, dan puteri Lord Juctice Scott, seorang hakin ternama di Inggris.
Perkembangan penduduk muslim yang cepat juga terjadi di Denmark. Secara
keseluruhan, berdasarkan survey yang dilakukan PBB pada
1999, penduduk muslim Eropa meningkat lebih dari 100% selama kurun waktu
antara 1989 dan 1998. Hal yang sama juga terjadi di Amerika Serikat.
Melihat
sebaran penduduk muslim khususnya di Benua Eropa dan Amerika
berdasarkan data yang ada (lihat Tabel 1 dan 2), diperoleh bahwa secara
keseluruhan di Benua Eropa terdapat penduduk muslim sebanyak 50,9 juta
atau 7% dari total penduduk, sementara di benua Amerika terdapat sekitar
10,9 juta atau hanya 1% dari total penduduk di benua tersebut. Di Eropa
negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar adalah Rusia (27 juta),
diikuti Perancis (6, 1 juta) dan Jerman (3 juta). Beberapa negara Eropa
lain yang berpenduduk muslim cukup besar (lebih dari 1 juta adalah
Inggris, Italia, Bosnia, Albania dan Yugoslavia, sementara di daratan
Amerika, penduduk muslim terbesar mendiami Amerika Serikat (sekitar 6
juta jiwa atau 2,1% dari total penduduk Amerika Serikat) diikuti oleh
Kanada (0,8 juta atau 2,5% dari total penduduk Kanada). Perlu dicatat
bahwa dari beberapa sumber yang ada, terdapat perbedaan estimasi jumlah
penduduk muslim di Negara-negara Barat. Misalnya sumber lain melaporkan
di Inggris terdapat sekitar 3,3 juta muslim, di Jerman 3,9 muslim dan
Perancis 7,5 juta muslim.
Perkembangan Islam di Amerika Serikat
Melihat
kondisi masyarakat muslim yang mendiami kedua benua tersebut khusunya
di Eropa dan Amerika Utara (yang dikenal sebagai Negara-negara Barat),
tampaknya masyarakat muslim yang tinggal di negara-negara Eropa banyak
mendapat tekanan dari pemerintah. Misalnya kasus jilbab di Perancis dan
Belanda, dan juga tekanan terhadap komunitas muslim di negara-negara
yang bergejolak khususnya di Eropa Timur. Inggris dan Jerman mungkin
termasuk Negara Eropa yang cukup kondusif bagi perkembangan Islam. Meskipun
mungkin ada tekanan dari pemerintah, tetapi tampaknya penduduk muslim
yang tinggal di Amerika Serikat memiliki kebebasan berkespresi yang jauh
lebih baik dibandingkan mereka yang menetap di banyak negara di Eropa. Untuk itulah, tulisan ini akan lebih memfokuskan pada perkembangan Islam di Amerika Serikat. Alasan lain mengapa memilih Amerika Serikat adalah ada yang mengatakan bahwa Amerika Serikat lebih relijius dibandingkan dengan negara-negara Barat yang lain. Pendapat
tersebut mungkin ada benarnya kalau kita tengok fondasi yang mendasari
pemerintahan Negara Adidaya tersebut. Misalnya dalam mata uang tertulis “In God We Trust” dan “One Nation Under God” pada ikrar/sumpah
setia yang dilahirkan oleh para pendahulu di AS merupakan bukti yang
cukup untuk membenarkan pendapat tersebut. Meskipun banyak yang
menentang bahkan mengajukan petisi untuk mengganti semboyan-semboyan
tersebut, usaha-usaha tersebut sia-sia. Selanjutnya pada akhir 1990-an,
Negara Bagian Ohio memenangkan persidangan untuk memasang motto “With God, all things are possible”. Moto ini tentunya juga sejalan dengan Al Qur’an, misalnya QS 2:106 yang artinya “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”.
Menurut
sejarah, Islam pertama kali masuk Amerika Serikat sekitar tahun 1530
ketika sejumlah orang Afrika Barat dibawa ke Amerika Serikat karena
adanya perdagangan budak. Dari ratusan ribu orang Afrika yang dipaksa
pindah dari tanah asal mereka, sekitar 14 persen sampai 20 persen di
antara mereka beragama Islam. Sementara itu, menurut sejarah, orang
Amerika kulit putih pertama yang masuk Islam adalah Alexander Russel
Webb, seorang jurnalis. Dia memulai hidupnya sebagai penganut
Presbitarian (salah satu aliran dalam agama Kristen), tetapi dia
menemukan paham aliran ini membosankan dan tidak encouraging.
Awal tahun 1881 dia mulai mencari kebenaran sejati dengan membaca
buku-buku di sebuah perpustakaan yang menyimpan lebih dari 13.000 volume
yang dapat dia akses. Awalnya dia mempelajari tentang Budisme dan dia
temukan ajaran tersebut kurang sempurna. Akhirnya dia mempelajari Islam
dan dia temukan kebenaran sejati, dan pada tahun 1888 dia menyatakan
dirinya secara formal sebagai seorang muslim. Pada mulanya dia tidak
pernah bertemu dengan orang Islam di Amerika, tetapi ada kontak dengan
beberapa orang Islam di India dan berkorespondensi. Pada akhirnya masa
hidupnya dia rajin menyebarkan Islam di Amerika baik melalui orasi
maupun tulisan-tulisannya. Istri dan ketiga anaknya juga akhirnya
memeluk Islam (untuk mengenal lebih jauh siapa Alexander Russel Webb,
bisa dibaca di http://en.wikipedia.org/wiki/Alexander_Russell_Webb ).
Pendatang
muslim dalam jumlah besar terjadi pada awal abad ke-20. Mereka umumnya
berasal dari Timur Tengah seperti Siria dan Libanon dan negara-negara di
kekhalifahan Utsman (Turki). Pasca Perang Dunia II, khususnya pada
tahun 1960-an dan 1970-an terjadi gelombang imigran yang cukup besar
dari dunia Islam dimana di antara mereka banyak yang datang untuk
belajar di universitas-universitas di AS. Islam
merupakan salah satu agama yang berkembang paling pesat di AS. Bahkan,
sesuai perkiraan yang dimuat dalam lembar fakta Departemen Luar Negeri
AS, pada tahun 2010, jumlah penduduk Muslim AS diperkirakan akan
melampui jumlah kaum Yahudi, dan menjadikan Islam agama terbesar nomor
dua di negara itu setelah agama Kristen.
Menganalisis
perkembangan Islam khususnya pertumbuhan penganut Islam dari waktu ke
waktu tampaknya sulit dilakukan mengingat ketidaktersediaan data. Data
jumlah penduduk muslim di Amerika pun sebenarnya masih simpang siur. Tetapi
hasil perkiraan dari berbagai sumber diperoleh bahwa jumlah penduduk
muslim di Amerika Serikat berada pada kisaran 5 – 8 juta jiwa. Pada
tahun 1991 sebuah laporan mencantumkan angka 5,22 juta jiwa (www.islam101.com/history/population2_usa.html).
Jika data pada Tabel 2 yang menyebutkan jumlah penduduk muslim Amerika
pada 2006 adalah akurat, maka tingkat pertumbuhan penduduk muslim per
tahun adalah sekitar 1,3%. Menurut sebuah sumber, rata-rata sekitar
17.500 orang Amerika keturunan Afrika berpindah ke agama Islam setiap
tahunnya antara 1990 dan 1995. Berdasarkan data yang diperoleh sari
sebuah Islamic Centre (Islamicity), jumlah orang Amerika yang berpindah
ke agama Islam yang tercatat di lembaga tersebut meningkat terus menerus
selama 2001-2007 (lihat Grafik 1).
Di
Amerika ada tiga kategori penduduk Muslim yaitu immigran, American
convert (muallaf), dan mereka yang terlahir di Amerika dari kedua
kelompok tersebut. Dari seluruh penduduk Muslim, 50% penduduk muslim
Amerika lahir di Amerika dan seperlima (19%) adalah muallaf (convert).
Jika dilihat berdasarkan karakteristik geografis diperoleh penduduk
muslim terbesar tinggal di negara bagian California (20% dari total
penduduk muslim), diikuti oleh negara bagian New York (16%), Illionois
(8,4%) dan New Jersey (4%). Sementara itu jika dilihat berdasarkan
etnis, Asia Selatan & Tengah dan Afro-Amerika
menempati jumlah terbesar dengan persentase masing-masing 33% dan 30%
diikuti Arab (25%). Etnis Eropa hanya sebesar 2%. Dari seluruh muallaf,
sebagian besar dari mereka adalah Afro-Amerika (64%) diikuti oleh warga
kulit putih (27%) dan Hispanik (6%).
Perkembangan
yang cepat juga ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah masjid yang
didirikan di Amerika Serikat. Berdasarkan sebuah survey yang dilakukan
oleh Council on American-Islamic Relations (CAIR) pada 2001, jumlah
masjid meningkat sebesar 25% selama kurun waktu 1994-2000, dengan jumlah
yang hadir ke masjid secara rata-rata dari 150 orang pada tahun 1994
menjadi 292 orang pada 2000 (meningkat sebesar 94%). Total penduduk yang
berasosiasi dengan seluruh masjid meningkat sebesar 300% selama periode
yang sama. Selanjutnya secara rata-rata, setiap masjid di Amerika telah
meng-Islam-kan sebanyak 16 orang per tahun.
Bagaimana mereka (para muallaf) sampai memeluk Islam?
Berdasarkan literatur yang ada, ada beberapa alasan kepindahan ke agama Islam. Empat alasan utama adalah tidak ada (kurangnya) human mediator,
rasional, egalitarian dan penekanan pada aspek keadilan. Sementara itu
ada beberapa cara menuju Islam. Diantaranya adalah dakwah yang dilakukan
di penjara-penjara di Amerika, interaksi dengan orang-orang Islam
(misalnya di perguruan-perguruan tinggi) baik melalui dialog maupun
pernikahan, dan membaca sendiri literatur Islam yang ada baik Al Qur’an,
buku-buku Islam dan internet Islam. Di antara ketiga cara tersebut,
tampaknya cara ketiga khususnya internet (website tentang Islam)
merupakan cara yang cukup efektif dan memegang peranan penting dalam
perkembangan Islam khususnya di Amerika. Grafik 1 di atas merupakan
salah satu bukti bahwa selama periode 2001-2007 terdapat sekitar 750
yang mengucapkan syahadat (masuk Islam) di Islamicity Centre setelah
mereka mempelajari Islam di website milik Islamic Centre tersebut.
Kondisi kondusif bagi berkembangnya Islam di Amerika
Menurut
hemat penulis, kiranya paling tidak ada dua faktor yang sangat kondusif
bagi berkembangannya Islam di Amerika Serikat yaitu (i) Tingkat pendidikan dan sitem pendidikan dan (ii) landasan yang mendasari berdirinya Negara Amerika Serikat.
- Tingkat pendidikan dan sitem pendidikan
Rata-rata
tingkat pendidikan yang tinggi berpengaruh pada cara berfikir. Budaya
berfikir kritis (critical thinking) dalam sistem pendidikan barat juga
sangat kondusif bagi perkembangan Islam di negara-negara barat, karena
dengan berfikir kritis mereka mampu menemukan kebenaran sejati. Tingkat
pendidikan yang tinggi, ditambah dengan adanya budaya “membaca” plus
aspek “critical thinking” merupakan modal untuk menilai, mengkritisi,
dan juga membandingkan antara ajaran agama yang satu dengan yang lain.
Bagi para pencari kebenaran, Islam akan dapat dipastikan sebagai
pemenang dan sebagai tambatan hati bagi mereka. Masuk Islamnya Alexander
Russel Webb (orang kulit putih pertama yang masuk Islam karena belajar
sendiri dan mendeklarasikan diri sebagai muslim) merupakan salah satu
bukti yang mendukung hal ini. Contoh lain adalah cerita tentang masuk
Islamnya Ali Selman Benoist, seorang sarjana kedokteran Perancis, yang
menyatakan bahwa sebelum berpindah ke agama Islam, dia mempelajari Al
Qur’an dengan “the critical spirit of a Western intellectual” (semangat
berfikir kritis seorang intelektual Barat), serta Dirk Walter Mosig
yang telah membaca seluruh kitab suci agama-agama yang ada.
Berkaitan
dengan budaya membaca ini, terkadang penulis malu pada diri sendiri.
Mengapa? Kalau penulis membandingkan diri penulis dengan Tony Blair
(mantan PM Inggris) mungkin pemahaman Tony Blair akan Al Qu’an jauh
lebih baik. Penulis memang sudah menamatkan baca Al Qur’an beberapa
kali, tetapi membaca maknanya atau terjemahannya belum pernah tamat
sekalipun, sementara Tony Blair paling tidak sudah tiga kali menamatkan
membaca Al Qur’an (terjemahnya), bahkan dia mencoba membawa Al Qur’an
kemanapun dia pergi. Dalam sebuah wawancara dia menyatakan “Qur’an
inspired me” dan “Qur’an memberikan dorongan pada saat-saat yang sulit”.
Kebiasaan Blair membawa Al Qur’an kemanapun dia pergi meniru kebiasaan
Chelsea Clinton (puteri mantan Presiden Bill Clinton) yang juga pernah
menghadiahkan Qur’an kepada Tony Blair (Berita tentang hal ini bisa
diakses di berbagai website, salah satu website misalnya http://education.guardian.co.uk/oxbridge/article/0,5500,561865,00.html.
Pengakuan Blair bahwa dia telah membaca Al Qur’an juga dapat dilihat
diwebsite resmi perdana menteri Inggris pada file tentang Tony Blair
(lihat referensi).
- Amerika didirikan di atas asas kebebasan, kesetaraan dan keadilan
Menurut
Ustadz Syamsi Ali (berdasarkan forward mailing list MIIAS) asas-asas
yang mendasari berdirinya Amerika sejalan dengan nilai-nilai Islam. Hal
ini juga diakui oleh Michael Wolfe penulis artikel berjudul “Islam: The Next American Religion?”.
Menurut Wolfe, Islam merupakan agama yang fit bagi kondisi Amerika saat
ini. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Wolf antara lain: Islam
memiliki semangat demokrasi, Islam itu egalitarian, dan Islam toleran
terhadap keyakinan lain. Singkatnya, menurut Wofl America is closer in spirit to Islam than many Arab countries.
Wajah Islam seperti apa yang muncul di Amerika Serikat?
Islam
yang lahir dari suatu tempat dimana kebebasan individu sangat dihargai
dan juga di tengah tengah masyarakat yang pluralis dengan beragam latar
belakang ditambah dengan tingkat pendidikan tinggi dan berfikir kritis
tentunya akan lain dengan Islam yang ada sekarang di Negara-negara Timur
Tengah atau di Indonesia dimana tingkat pendidikan masyarakat secara
rata-rata masih sangat rendah dibandingkan dengan tingkat pendidikan
masyarakat di Negara-negara Barat. Muslim di Amerika (yang umumnya educated
berdasarkan sebuah laporan penelitian) tentunya lebih toleran baik
terhadap perbedaan pandangan maupun terhadap kelompok agama lain. Islam
yang lahir di Negara-negara Barat umumnya dan di Amerika khususnya
cenderung tidak mengarah pada sektarianisme, karena masyarakat Barat
sudah terbiasa dengan perbedaan. Meskipun mungkin aliran sunni banyak berpengaruh pada perkembangan Islam
di Barat, tetapi isu-isu sektarianisme atau paham golongan tidaklah
kental seperti yang terjadi di Timur Tengah (sunni dan syiah) atau di
Indonesia (NU, Muhammadiyah dan kelompok lain). Jadi yang muncul adalah
nama Islam tanpa embel-embel. Apa
yang dikatakan salah seorang guru penulis mungkin dapat mendukung hal
tersebut di atas. Salah seorang guru penulis di kampung halaman pernah
mengatakan “seorang ustadz di kampung belum sempurna menjadi ustadz
kalau belum pernah menetap di Jakarta”. Mengapa?
Karena dengan pernah menetap di Jakarta untuk sekian lama, maka akan
terbiasa bergaul atau bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang
yang berbeda. Hal ini akan membentuk karakter seseorang yang lebih
toleran terhadap perbedaan dan mengurangi rasa ke”AKU”an seperti akulah
yang paling benar. Kalau di kampung banyak dijumpai sentimen keNUan dan
keMuhamadiyahan, maka sentimen ini tidak terlalu kental atau tak
terlihat di Jakarta.
Islam pasca peristiwa 11 September
Peristiwa
11 September yang diduga sebelumnya akan membalikkan tren perkembangan
Islam yang pesat di Negara-negara Barat khususnya Amerika, ternyata
peristiwa tersebut justru menjadi starting point keinginan
masyarakat Barat untuk mengetahui lebih jauh apa itu Islam. Salah satu
buktinya adalah Qur’an sebagai ‘Buku” paling laris atau best seller.
Di Inggris, setelah peristiwa 11 September menurut laporan dari Masjid
Menchester ada 16 orang yang masuk Islam. Di Amerika pasca 11 September,
memang sempat terindikasi adanya perlambatan dalam jumlah orang yang
memeluk Islam (lihat Grafik 1 di atas) khususnya pada 2002. Akan tetapi
sejak 2003, laju pertambahan orang yang masuk Islam terlihat lebih
cepat. Hal ini mungkin dikarenakan banyak orang yang setelah membaca Al
Qur’an ternyata justru menemukan bahwa Islam tidak ada kaitannya dengan
terorisme. Islam sebagai agama
yang dipahami secara salah (misunderstood religion) khususnya di Amerika
Serikat utamanya disebabkan paling tidak oleh dua faktor. Pertama,
sebagian besar masyarakat Amerika tidak banyak mengetahui tentang Islam
atau bahkan tidak tahu sama sekali. Hasil sebuah survei yang dilakukan
setelah peristiwa 11 September diperoleh bahwa lebih dari 60% tidak tahu
tentang Islam. Kedua, adanya kecenderungan media massa yang menampilkan
Islam secara negatif. Hal ini bisa dipahami mengingat media massa yang
umumnya dikuasai oleh golongan yahudi, yang menurut Al Qur’an Surat Al
Maidah ayat 82 (lihat di bawah) merupakan salah satu
golongan yang paling keras memusuhi Islam. Hal ini didukung oleh cerita
singkat di bawah. Penulis dapatkan sebuah cerita yang menurut penulis menarik untuk diungkapkan. Ringkasnya, setelah peristiwa 11
September Dr. Walid Fatihi, seorang instruktur di Harvard Medical
School, beserta keluarga dan anaknya datang ke Gereja terbesar di Boston
atas undangan resmi dari Masyarakat Isalm Boston (Islamic Society of
Boston) untuk mewakili Islam untuk memenuhi undangan
khusus dari senator Boston. Pada kesempatan tersebut dia membacakan
pernyataan resmi pengecaman peristiwa 11 September yang isinya juga
menyatakan prinsip-prinsip Islam dan ajaran-ajarannya. Setelah itu dia
membacakan beberapa ayat Al Qur’an yang juga diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris. Apa yang terjadi adalah gereja tersebut dipenuhi dengan
air mata ketika mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an dibacakan. Setelah
acara selesai, seseorang wanita mengatakan padanya: “Saya tidak paham
bahasa Arab, tetapi tidak ada keraguan bahwa apa yang kamu katakana
adalah firman Allah”. Lalu ada lagi yang seorang pria yang penuh dengan
air mata yang berdiri menunggu di pintu masuk gereja berkata: “Kamu sama
seperti kami; tidak, kamu lebih baik dari kami”. Pada hari berikutnya,
giliran Islamic Society of Boston mengundang secara terbuka masyarakat
Boston untuk datang ke Islamic Centre untuk berdialog. Undangan tersebut
diperkirakan paling banyak dihadiri oleh 100 orang, tetapi di luar
dugaan lebih dari 1000 orang hadir baik dari masyarakat gereja dan
pimpinan gereja setempat, dosen, mahasiswa dan pejabat. Mereka semua
duduk di lantai masjid. Sekali lagi ketika dibacakan ayat-ayat Al Qur’an
mata mereka penuh dengan air mata. Sejak itu banyak di antara mereka
yang meminta untuk ikut serta dalam kajian mingguan (weekly lessons)
khusus bagi non-muslim yang diadakan oleh Islamic Centre tersebut.
Banyak di antara mereka yang mengaku mengetahui Islam hanya dari media
yang cenderung bias. Peristiwa
tersebut sebenarnya juga pernah terjadi pada jaman Nabi dimana ketika
orang-orang Nasrani dari Najran diundang Nabi lalu ketika dibacakan
kepada mereka ayat-ayat Allah, air mata mereka bercucuran. Al Qur’an
menyebutkan bahwa orang-orang Kristen adalah kelompok yang dekat
persahabatannya dengan orang-orang Islam dibandingkan kaum lainnya. QS
Al Maidah ayat 82-83 berbunyi (artinya):“Sesungguhnya
kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap
orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang
musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya
dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:
“Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan
karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat
pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak
menyombongkan diri. Dan
apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul
(Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka
sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka
catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.
Penutup
Sebagai penutup, penulis kutipkan QS An Nashr ayat 1-2 yang artinya: “Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan, maka kamu akan melihat orang masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”.
Meskipun ayat ini turun menggambarkan penaklukan kota Mekkah sebagai
basis kaum musyrik/kafir, penulis yakin bahwa karena Al Qur’an berlaku
sepanjang zaman, maka Amerika sebagai Negara adidaya yang mungkin tidak
ada negara satupun yang bisa menandinginya, hanya bisa ditaklukan oleh
Islam. Jadi peristiwa serupa seperti Fathu Makkah itu akan terjadi di Amerika yang kalau boleh disebut Fathu Amrikiyyah.
Dan yakinlah bahwa sesuai janji Allah bahwa Islam akan keluar sebagai
pemenang dan melebihi semua agama yang ada, seperti yang disebutkan pada
QS Al-Fat-h (Kemenangan) ayat 28 yang artinya:
“Dialah
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS 48:28).
Dan Juga QS. At Taubah, 9: 32-33
“Mereka
berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut
(ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak
menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk
(Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala
agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. (QS. At Taubah, 9:
32-33).
Atas
kekuasaan Allah Islam akan Berjaya kembali suatu saat sesuai janji
Allah di atas, dan mungkin bisa juga kita renungkan apa kata Napoleon
Bonaparte: “I hope the time
is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated
men of all the countries and establish a uniform regime based on the
principles of Qur’an which alone are true and which alone can lead men
to happiness”. (French Emperor Napoleon Bonaparte, dikutip dalam Christian Cherfils, ‘Bonaparte et Islam,’ Pedone Ed., Paris, France, 1914, pp. 105, 12). Apakah Napoleon resmi masuk Islam, ada perbedaan pendapat. Tetapi David Mosa Pidcock, seorang muallaf dari Inggris, dalam bukunya berjudul “Satanic Voices – Ancient and Modern”
yang mengutif sebuah surat kabar resmi berbahasa Perancis menyatakan
keyakinannya bahwa Napoleon Bonaparte masuk Islam bahkan menurut dia
surat kabar tersebut menyebutkan nama muslimnya yaitu ‘Aly (Ali)
Napoléon Bonaparte’. Wallohu a’lam.
Referensi:
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag.Ihsan Bagby, I. Perl, P.M., and Froehle, B.T. 2001, The Mosque in America: A National Portrait, A Report from the Mosque Study Project, Council on American-Islamic Relations, Washington, D.C.
http://www.riseofislam.com/europe_and_islam_01.html
Wolfe, Michael “Islam: The Next American Religion?”, available:www.masjidtucson.org
Napoleon Bonaparte embraced Islam? http://media.isnet.org/off/Islam/New/napoleon.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar